40 Negara Sumbang Rp27,6 Triliun ke ISIS

Militan ISIS (abcnews.com)
Irak menuding Arab Saudi ada di balik pendanaan ISIS. Apa motifnya?
Berita Midas - Kelompok militan ISIS diklaim telah menerima dukungan keuangan dari 40 negara, termasuk beberapa yang hadir di KTT G20 di Turki. Hal tersebut diungkapkan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dia mengaku berbagi bukti dengan negara-negara anggota G20 lainnya.
"Saya memberikan contoh berdasarkan data kami pada pembiayaan ISIS, dari unit individu swasta. Uang ini, karena kami telah menetapkan, berasal dari 40 negara dan ada beberapa anggota G20 di antaranya," ujar Putin seperti dikutip dari laman International Business Time, Selasa 17 November 2015.
Menurut laporan, terdapat donor keuangan yang berasal dari Kuwait, Qatar dan Arab Saudi yang mendukung ISIS. Sayangnya Putin tidak menyebutkan secara gamblang negara apa saja yang dia maksud ketika berbicara dengan wartawan.
Para pemimpin ekonomi top dunia berkumpul pada Minggu 15 November 2015, untuk KTT G20 di Antalya, Turki. Pemerintah Rusia memperingatkan negara-negara anggota lainnya tentang bahaya perdagangan minyak ilegal dengan ISIS.
"Saya telah menunjukkan foto rekan-rekan kami yang diambil dari ruang angkasa dan dari pesawat yang jelas menunjukkan skala perdagangan ilegal produk minyak dan minyak bumi," katanya.
Dalam kesempatan tersebut Putin menyerukan kepada masyarakat internasional untuk bersama-sama melawan ISIS. Namun, motif Rusia ini diduga untuk memperkuat rezim Presiden Bashar Assad.
Dari Mana Dana Berasal?
Pemerintah Irak sejak awal menuding Arab Saudi mendukung perang yang dilancarkan ISIS. Bukan hanya dari segi finansial, melainkan juga moral.
Sekitar 500 miliar Dinar atau setara dengan Rp5 Triliun lenyap dari Bank Sentral Irak cabang Mosul ketika gerilyawan ISIS merebut kota di utara tersebut. Pengamat meyakini, kelompok Islam militan itu kini mengantongi dana jihad sebesar US$2 miliar atau setara dengan Rp27,6 triliun. Dari mana uang sebesar itu berasal, hingga kini belum jelas.
Charles Lister, Peneliti di Brookings Doha Centre mengatakan, hingga saat ini tidak ada bukti kuat yang melandaskan keterlibatan pemerintahan sebuah negara dalam pembentukan dan pendanaan ISIS sebagai organisasi.
Sebaliknya G√ľnter Meyer yang memimpin Pusat Kajian Arab di Universitas Mainz, Jerman, tidak meragukan adanya kucuran uang dari negeri jiran. "Sumber keuangan terbesar sejauh ini adalah negara-negara di Teluk, terutama Arab Saudi, tapi juga Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab," kata Meyer seperti dikutip dw.com.
Kepentingan negara-negara teluk bermazhab Sunni pada keberadaan ISIS sejatinya untuk meruntuhkan kekuasaan Presiden Basyar Assad di Suriah, lanjut Meyer. Sepertiga penduduk Suriah termasuk golongan Sunni. Sementara negeri di tepi Golan itu dipimpin oleh minoritas Syiah Alawiyah.
Saat ini pemerintah Arab Saudi pun menyadari bahaya yang ia tuai. "Penduduk Arab Saudi mewakili kelompok terbesar di antara gerilyawan ISIS. Jika mereka pulang, akan muncul ancaman bahwa mereka lantas merongrong pemerintah di Riyadh," kata Meyer.
Menurutnya aman untuk berasumsi bahwa kucuran dana dari Arab Saudi akan terus berlanjut. "Bukan dari pemerintah, tapi dari penduduk yang kaya," ungkapnya.
Sumber dana kedua buat ISIS adalah ladang minyak di utara Suriah. "ISIS memahami untuk segera menguasai sumber rejeki ini. Mereka membawa minyak mentah ke perbatasan Turki untuk kemudian dijual," ujar Meyer.
Suka Artikel Ini? KLIK LIKE
close