DUA TAHUN DALAM RAHASIA!!! Berperan dalam ‘Star Wars’ Terbaru, Trio 'The Raid' Akhirnya Angkat Bicara

Cecep Arif Rahman, Iko Uwais, dan Yayan Ruhian berpose silat sambil diapit oleh Stormtrooper. Pramedya Nataprawira


OLEH RENO NISMARA | Dec 16, 2015

Berita Midas, Pada Sabtu (12/12) pagi lalu, sebuah foto dengan cepat tersebar melalui berbagai situs jejaring sosial. Muatannya: sebuah buku yang terbuka dan menampilkan halaman dengan foto besar Yayan Ruhian, Iko Uwais, serta foto kecil Cecep Arif Rahman—ketiganya meraih popularitas berkat film The Raid dan sekuelnya, The Raid 2: Berandal. Mereka semua mengenakan kostum serba hitam sambil menggenggam senjata luar angkasa.


Buku itu memiliki judul Star Wars: The Force Awakens Visual Dictionary. Dengan demikian terungkap sudahlah misteri yang menyelimuti ketiga aktor laga tanah air tersebut perihal keterlibatan mereka dalam lanjutan film epik fiksi ilmiah yang mengambil tempat di galaksi nan jauh.

Tercatat pada buku tersebut bahwa Yayan akan berperan sebagai Tasu Leech, Iko menjadi Razoo Qin-Fee, dan Cecep memerankan Crokind Shand. Mereka tergabung dalam Kanjiklub selaku organisasi kriminal luar angkasa yang dikenal bengis dan dipimpin oleh Tasu Leech. insert sidebar insert ads article
Lewat konferensi pers yang terlaksana pada Selasa (15/12) malam lalu di XXI Senayan City, Jakarta—sebelum pemutaran perdana Star Wars: The Force Awakens di Indonesia untuk sejumlah undangan—Yayan, Iko, dan Cecep akhirnya angkat bicara soal keterlibatan mereka dalam film garapan J.J. Abrams ini.

“Tentu saja, ini merupakan sebuah kebanggaan. Tapi di balik kebanggaan itu, ada sesuatu yang harus kami simpan. Hampir dua tahun kami tidak boleh bicara tentang keterlibatan kami dalam film ini. Dua hari lalu, kami baru boleh mengatakan, ‘Iya, kami terlibat’ dan ‘Iya, itu karakter kami untuk Star Wars,” ujar Yayan di hadapan para jurnalis yang bertugas. insert sidebar insert ads article
Yayan kemudian melanjutkan bahwa sebelumnya ia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan orang seputar Star Wars terbaru dengan berbohong. Ia mengenang, “Banyak yang menanyakan, tapi saya jawab kalau itu rumor saja. Saya bilang, ‘Sebagai praktisi film Indonesia, siapa yang tidak bangga terlibat dalam film Star Wars? Mudah-mudahan rumor itu jadi kenyataan. Doakan saja.’ Begitulah caranya agar keterlibatan kami tidak bocor.”


Menyebut kisah Star Wars sebagai karya film belaka adalah meremehkan, karena pada kenyataannya ini merupakan produk budaya populer yang berstatus fenomenal. Iko pun menyadari hal ini dan membuatnya merasa bangga bisa mewakili Indonesia dalam film tersebut. Namun ia juga menjadi ekstra hati-hati dalam merespons pertanyaan-pertanyaan publik. insert sidebar insert ads article
“Star Wars bukan hanya karya film, tapi produk budaya. Sekarang Indonesia dipercaya ikut kolaborasi. Saya merasa sangat bangga.  Tapi ini membuat saya tidak bisa mengiyakan pertanyaan orang-orang. Lebih baik nanti saja kalau sudah ada hasilnya,” terang Iko.

Sementara itu, Cecep mengungkapkan pengalamannya syuting sambil puasa—meski ia mengaku ada bocor sedikit dikarenakan durasi puasa yang mencapai sembilan belas jam di lokasi pengambilan gambar. Ia menceritakan, “Mereka sangat menghargai kami. Selalu disediakan makanan untuk buka puasa. Mereka mempersilakan kami jika mau istirahat dulu untuk berbuka.”

“Tapi kami main di dalam ruangan, pesawat antariksa. Dan itu rasanya tidak seperti di setting, tapi kapal benar. Bukan hanya fisiknya, tapi mekanismenya juga dibuat senyata mungkin,” sambungnya lebih lanjut menjabarkan pengalaman syuting dalam sebuah film Hollywood berbujet besar. Cecep juga sempat membeberkan soal bahasa planet yang digunakan geng Kanjiklub yang “mirip-mirip dengan bahasa daerah kita tapi bukan.”

Pertemuan pertama para aktor Indonesia dengan Abrams dan timnya terjadi di Inggris ketika mereka sedang melakukan kegiatan promosi film The Raid 2: Berandal. Seperti diinformasikan oleh Iko, kedua belah pihak sempat membicarakan soal ide koreografi adegan. Iko berkata: “Mereka sangat antusias dan bilang, ‘Kita akan kasih kejutan buat audiens.’”

Mengenai proses syuting yang dipecah menjadi dua pekan pada Agustus 2014 dan dua pekan pada Oktober 2014, Iko menyatakan bahwa sifat film yang serba rahasia membuatnya kurang mampu memahami cerita. “Setiap datang, kami dikasih naskah. Kemudian setiap pulang, naskahnya diambil lagi. Pakai tanda tangan menjaga kerahasiaan juga. Kalau bahwa handphone pun kameranya ditutup barcode. Jadi saya cuma tahu memerankan Razoo Qin-Fee, tapi kurang mengerti ceritanya,” kenangnya.

Meski begitu, seperti yang sudah diberitakan berbagai media baik nasional maupun internasional, Abrams telah terang-terangan memuji kinerja Yayan, Iko, dan Cecep dalam berbagai proses yang mereka lalui untuk Star Wars: The Force Awakens. “Mereka membuat saya takjub. Mereka hebat. Mereka melakukan pekerjaan yang luar biasa,” kata Abrams.

Sementara soal karakternya yang tergolong penjahat, seperti yang sudah ia lakukan pada akting perdananya dalam film Merantau dan juga The Raid di mana ia memerankan Mad Dog yang ikonis, Yayan dengan lantang mengatakan: “Saya senang mendapat peran penjahat. Kalau peran baik, kami makan gaji buta. Jadi jahat, kami kerja. Ada pura-puranya. Kalau jadi baik, seperti sehari-hari saja.”

sumber: Rolling Stone Indonesia

close