Kekayaan Miliarder Indonesia Kehilangan Rp.123 Triliun



Berita Midas - Harga komoditas yang jatuh berdampak besar bagi perekonomian negara yang terfokus pada ekspor, seperti Indonesia. Dampak harga komoditas yang anjlok dan berpengaruh pada perlambatan ekonomi nasional juga ternyata berdampak pada kekayaan para miliarder Indonesia. 


Mengutip Forbes, Jumat (4/12/2015), orang-orang super kaya yang termasuk dalam daftar Indonesia's 50 Richest mengalami kemerosotan kekayaan sebesar 9 persen atau sekitar 9 miliar dollar AS (sekitar Rp 123,3 triliun dengan kurs Rp 13.700 per dollar AS).  Tercatat hanya 10 orang dalam daftar Indonesia's 50 Richest yang mengalami peningkatan kekayaan. 

Hal tersebut disebabkan pelemahan rupiah, menurunnya harga minyak, dan terus merosotnya harga minyak sawit dan batu bara.  Segala pelemahan ini ternyata memukul setidaknya 6 orang miliarder Indonesia. 

Sekedar informasi, kini Indonesia memiliki 28 orang miliarder. Salah satu miliarder yang paling terpukul karena perlambatan ekonomi adalah Edwin Soeryadjaya dan Sukanto Tanoto.  Keduanya menggantungkan bisnis pada komoditas. 

Soeryadjaya memiliki 60 persen saham Saratoga Investama Sedaya yang fokus pada batu bara, migas, dan kelapa sawit. Saham korporasi tersebut turun 30 persen. 

Sementara itu, Tanoto mengalami penurunan saham yang amat signifikan atas Asian Agri yang mengandalkan bisnis kelapa sawit.  Oleh sebab itu, untuk pertama kalinya Tanoto didepak dari daftar orang-orang super kaya ini untuk pertama kalinya dalam 7 tahun. 

Menurunnya indeks Jakarta Composite Stock Exchange sebesar 22 persen juga memukul orang-orang super kaya Indonesia. 

Mereka yang kekayaannya menurun, mengalami pemangkasan kekayaan rata-rata 370 juta dollar AS atau sekitar Rp 5 triliun. 

Sjamsul Nursalim mengalami penurunan kekayaan lantaran mengalami penurunan saham Mitra Adiperkasa, perusahaan ritel miliknya. Selain itu, The Ning King juga mengalami penurunan kekayaan lantaran saham Bekasi Fajar Industrial Estate mengalami penurunan hingga 45 persen. 

Ada dua miliarder baru yang berhasil masuk dalam daftar, yakni raja properti Osbert Lyman dan raja tekstil Iwan Lukminto. Berada pada posisi 50 adalah Soetjipto Nagaria berkat naiknya saham Summarecon yang dimilikinya.

close